Headlines News :
Home » , , , , » Menjadi Orang Tua Yang Baik

Menjadi Orang Tua Yang Baik

Written By Cerita Ayah on 27 Des 2011 | 09.55


Dari seminar parenting skill di Aula KLK Bima (25/12)

Menjadi Orang tua nampaknya gampang-gampang susah. Perlu terus belajar dan belajar agar bisa menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak. Boleh jadi sebelum menikah kita memiliki idealisme untuk menjadi orang tua yang terbaik. Tapi manakala sudah menikah dan memiliki anak apalagi beberapa anak dengan berbagai macam karakternya, tantangan sebagai orang tua semakin berat.

Adib_Keluarga baru Mela Firraz
Beberapa tips disampaikan oleh pembicara seminar Parenting skill dan peluncuran Rumah Keluarga Islam di Aula KLK Bima (25/12). Psikolog anak, Ishlahudin, S.Psi, sebagai salah seorang pembicara mengatakan bahwa bagi orang tua agar Jangan takut-takuti anak. Hal itu hanya akan membuat ketaatan anak sementara. Jangan juga membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lain apalagi anak orang lain. Pasalnya setiap anak memiliki karakter tersendiri. Karakter yang berbeda dengan yang lain.
Lebih lanjut Islahuddin mengatakan bahwa bagi orang tua juga perlu mempertahankan idealisme sebagai orang tua yang baik. “Janganlah berharap anak memahami orang tua tapi orang tualah yang harus memahami anak”, ujarnya.  Kelakukan menyimpang seorang anak perlu diterima kemudian dipahami sehingga bisa memberikan pola asuh sesuai kebutuhan anak. Saat menghadapi anak sulit (difficult child) yang menangis, sebaiknya orangtua lebih sabar dan tidak menimpalinya dengan omelan atau bentakan (verbal abuse) yang justru membuat anak merasa tidak nyaman.  Justru pelukan dan belaian lembut akan menciptakan rasa nyaman dan menurunkan kemarahan anak. Anak juga menurutnya akan terus menjari figur yang bisa menjadi panutannya. “Seorang anak akan mencari significant person. Jika significant person itu tidak didapatkan kepada orang tuanya maka signifikant person itu akan di dapatkan pada diri gurunya. Kalau juga tidak sama gurunya maka akan mencari person lain. Inilah yang berbahaya”, ingatnya.

Masih menurut Islahuddin, dunia anak adalah dunia bermain. Maka pada usia 0-6 tahun ajak lah anak bermain, usia 7-12 tahun ajarkan moral/sholat, bisa dipukul bila tdk sholat. “tentunya pukulan yang tidak menyakitkan anak’’, ingatnya. Saat usia 13 tahun temani anak sebagai teman, ajak bicara, diskusi masalah apapun yang dihadapi anak.

Orang tua juga perlu bersikap tegas dan konsisten, hindari terlalu sering ganti pola asuh.
Adib Interisti_Dunia anak adalah dunia bermain
Lebih jauh psikolog yang juga ustadz ini mengatakan bahwa semua karakter anak itu positif. Semua punya nilai. Masalahnya bagaimana kita mengembangkan karakter-karakter tersebut ke arah yang positif.
Anak-anak butuh telaga bening seperti dalam diri seorang ibu, anak-anak juga butuh tokoh pahlawan seperti pada diri ayahnya. *Karakter pahlawan : keberanian dan kebenaran.

Sedangkan Mujahiddin, S.Pd sebagai pembicara kedua yang membahas komunikasi positif orang tua dan anak mengatakan bahwa Anak dilahirkan dgn karakter dan unik. Pada awal penyampaiannya pembicara dari Mataram ini mengatakan bahwa membangun rumah tangga tak semudah membangun tangga rumah. Tapi terkadang menghancurkan rumah tangga bisa jadi lebih mudah dari menghancurkan tangga rumah. Sebabnya karena kurangnya komunikasi.


Menurut ustadz yang juga seorang guru kimia ini tak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tetapi orang tua tetap perlu belajar menerapkan pola pengasuhan yang positif pada anak agar dapat membentuk karakteristik anak dimasa depan.

Bagi seorang anak, dunianya adalah dunia bermain. Peraturan anak : dilarang melarang. Ibarat mobil banyak rem nya daripada gas nya. Akibatnya anak akan terlambat atau terhambat perkembangannya. Padahal menjaga perasaan anak bukan berarti harus melindungi berlebihan. 

Ustadz humoris ini juga mengingatkan agar orang tua tidak menganggu anak saat bermain. Sebab sekali lagi dunia anak adalah dunia bermain. Sama seperti orang dewasa yg dunianya bekerja apabila diganggu, maka anakpun tidak suka juga diganggu saat bermain.

Menurut beliau, dalam komunikasi orang tua dan anak, ada 7 hambatan yang ditemui, yaitu :
1. Komunikasi gaya komandan.
Contohnya : ‘jgn sekali2 kamu membantah ibu, ibu yg melahirkan kamu, ibu yang mengandung kamu dengan tetesan keringat, darah dan air mata, dst”
“anak-anak....maghrib, ayo masuk....! sekarang juga!”,
Ayo matikan TV nya ! sebentar, Bu... Matikan ! Pokoknya matikan !”
2. Gaya penceramah. Boleh asal benar.
“nak, kamu kan memang kurus, jadi terima saja itu pemberian Tuhan....”
3. Gaya sok tau. 
Menganggap anak pasti tidak tau
Contoh. “Cb pikirkan saran bapak...kamu belum pengalaman, Nak. Bapak ini sudah makan asam garam”
  4. Gaya hakim.
Misalnya “Dapat lima kok sedih. Dapat lima ya wajar...ya sdh terima saja””
Anak mengeluh. Lalu dibalas : memang, jangankan di sekolah di rumah saja kamu suka buat ulah.
5. Gaya menyindir. 
Salah satu penyebab anak tidak mau mengikuti karen orang tidak menghargai anak. Kepada anak perlu diberikan reward. Pengakuan atas prestasinya.
Contoh gaya menyindir : Anak sedang belajar nyapu. “Tumben...kena angin apa tuh....?”, atau “kok kepalamu keras banget ya...”
6.  Gaya penghibur.
Contoh : Bu, diraport adek dapat nilai 5. Lalu ibu menjawab : Oh...ibu dulu dapat 3. Kamu masih lebih baik..., Nak.
7. Gaya pemeriksa. 
Contoh : Setelah Mama periksa dan teliti ternyata pekerjaanmu salah semua. atau
“Kamu mau ke sekolah atau fashion?”

Satu catatan penting dari kegiatan parenting skill ini adalah bahwa menjadi orang tua yang baik harus direncanakan sejak dini. Seyogyanya pengetahuan tentang menjadi orang tua yang baik ditanamkan sejak sebelum menikah.
Membangun Rumah Tangga

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Arsip Blog

Pengujung

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Cerita Ayah - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template